Laman

Sabtu, 14 Mei 2011

kekerasan dan eksploitasi anak


Nama  : Avliya Quratul Marjan
NIM     : I14090039
Departemen Gizi Masyarakat, FEMA IPB

Kekerasan dan eksploitasi anak
            Anak merupakan suatu anugerah dari Tuhan yang tak ternilai harganya. Maka dari itu anak harus mendapat perlindungan dari kekerasan dan deskriminasi demi terwujudnya anak yang hidup sejahtera, berkualitas dan terlindungi. Untuk mewujudkan kehidupan anak yang sejahtera, masyarakat dunia harus menjamin terpenuhinya hak anak dan perlindungan anak yang merupakan bagian dari hak asasi manusia antara lain hak untuk hidup, keberlangsungan hidup, mendapat pendidikan, tumbuh kembang dan berpartisipasi secara optimal.
            Ada banyak fakta yang menunjukkan tentang kehidupan anak yang tidak selayaknya didapatkan oleh seorang anak seperti eksploitasi, terjebak dalam kemiskinan, menjadi objek untuk jual beli manusia demi kepentingan ognum tertentu, serta mendapatkan tekanan dan kekerasan yang dipengaruhi oleh lingkungan. Melalui fakta dan banyaknya petimbangan lain maka organisasi dunia PBB dengan organisasi dibawahnya yaitu UNICEF untuk pertama kali menyelenggarakan peringatan hari anak pada Oktober 1953. Majelis umum PBB kemudian menetapkan suatu hari khusus sebagai hari anak-anak sedunia yang hingga kini yang diperingati setiap tanggal 20 November oleh negara-negara yang menyelenggarakan peringatan hari anak-anak sedunia ini.
            Adanya peringatan pada hari anak sedunia tersebut maka akan memberikan dampak positif pada masalah yang dihadapi anak-anak di dunia yaitu terlihat bahwa anak-anak menjadi bahan perhatian khusus bagi negara-negara, organisasi dan lembaga-lembaga internasional. Melalui peringatan hari itu banyak sumber yang mengajukan laporan data statistik terbaru mengenai keadaan anak-anak, masalah dan kesulitan yang mereka hadapi serta kondisi kesehatan dan kesejahteraan mereka. Dalam data tersebut juga tercantum mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan eksploitasi anak, pendidikan yang rendah bagi anak, tekanan dan kekerasan pada anak, serta adanya kemiskinan yang menyelimuti kehidupan anak tersebut.
            Hak asasi manusia adalah hak untuk memperoleh kebebasan, keadilan dan kedamaian di dunia. Dalam hal ini, anak-anak lebih memerlukan perhatian, dukungan dan keamanan di banding kelompok umur yang lain. Masa depan dunia yang lebih baik memerlukan dukungan kesehatan mental dan keamanan anak-anak. Berkenaan dengan masalah ini, Majelis Umum PBB mengesahkan sebuah piagam yang disebutnya sebagai konvensi hak anak-anak se-dunia. UNICEF ssebagai bagian dari organisasi di bawah PBB menegaskan, tanpa diskriminasi apapun, anak-anak di dunia harus diberi perlindungan khususnya oleh seluruh negara di dunia. Meskipun pengesahan piagam tersebut, merupakan langkah yang cukup berarti dalam merealisasikan hak anak-anak, akan tetapi para pemimpin dunia masih merasa perlu untuk menandatangani kesepakatan mengenai perbaikan kondisi anak-anak di dunia. Namun demikian, sampai awal abad ini, kondisi kehidupan anak-anak dunia masih belum menunjukkan perbaikan yang cukup memuaskan.
            Kekerasan, tekanan dan eksploitasi anak merupakan satu kesatuan yang terjadi di lingkungan kehidupan anak. Banyaknya anak-anak yang dieksploitasi oleh ognum-ognum yang tidak bertanggung jawab dan tidak pernah memikirkan hak anak untuk keberlangsungan hidupnya. Dengan adanya eksploitasi ini kemungkinan terbesar anak akan mendapatkan kekerasan dan tekanan yang tinggi bila tidak mendapatkan hal yang sesuai dengan keinginan ognum-ognum tersebut. Tingkat pendidikan yang rendah pada anak merupakan akibnat dari kemiskinan dalam kehidupan anak. Sebenarnya anak tidak dapat disalahkan terhadap pendidikan yang rendah tersebut, karena banyak faktor lain yang memepengaruhi tingkat pendidikan anak seperti rendahnya pengetahuan orang tua yang mengaggap pendidikan itu tidak penting, kemiskinan yang total dan kurangnya perhatian dari pemerintah mengenai masalah yang terjadi pada anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak.
             Selain dari itu semua setiap tahunnya anak menjadi korban penyeludupan dan jual beli manusia. Mereka diperdagangkan untuk beberapa kepentingan layaknya budak yang tidak ada tuannya. Dalam hal ini PBB melaporkan bahwa permintaan akan tenaga kerja murah begitu banyak, dan kebutuhan akan anak-anak perempuan dan lelaki dalam perniagaan seks semakin meningkat. Adanya jual beli organ tubuh (hati, ginjal, dan kornea) yang didapatkan dari seorang anak juga merupakan dampak dari penyeludupan dan jual beli anak.
            Dunia telah menjanjikan pada awal abad ini akan dilaksanakan perdamaian dunia dan menolak terhadap kekerasan yang terjadi pada anak. Namun fakta menyatakan berbeda, beberapa tahun terakhir ini telah banyak terjadi perang-perang antar negara di dunia yang menyebabkan anak-anak mendapat kekerasan. Perang-perang yang meletus akibat dendam dan permusuhan itu telah menimbulkan rasa tidak aman, tidak adanya kasih sayang dan perhatian pada anak-anak, karena sebagian besar dari peperangan yang terjadi korbannya adalah anak-anak dan wanita. Maka dari itu kita sebagai masyarakat dunia yang peduli terhadap hak-hak anak harus memberikan pencerahan, harapan dan kegembiraan kepada anak-anak di dunia yang selama bertahun-tahun menjadi korban utama perang. Dunia anak-anak harus menjadi sebuah dunia yang sehat, penuh keriangan dan semangat, bukan dipenuhi dengan perang, tekanan, gangguan dan kekerasan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
            Inilah fakta yang menyakitkan dan memilukan dari kondisi kehidupan anak-anak di dunia. Negara, organisasi dan lembaga-lembaga internasional serta seluruh pakar masalah anak harus mengambil pelajaran pengalaman masa lalu yang telah ada untuk mengambil langkah demi merealisasikan hak anak-anak. Hal ini harus diperhatikan karena anak-anak merupakan investasi terbaik bagi sebuah kemajuan dan pembangunan. Untuk melindungi anak-anak yang merupakan generasi mendatang dunia, seluruh negara harus bersama-sama memikul tanggungjawab terhadap kehidupan anak demi menjadi generasi penerus bangsa dan dunia yang berkualitas. Dengan demikian, kesulitan dan problema kehidupan anak-anak akan berhasil diatasi untuk kemudian melangkah dalam mewujudkan hak-hak mereka.

2 komentar: