Laman

Sabtu, 14 Mei 2011

analisis lemak soxhlet


Laporan Praktikum ke 5                                 Tanggal mulai   : 25 Maret 2011
MK. Analisis Zat Gizi Makro                           Tanggal selesai : 25 Maret 2011


PENETAPAN LEMAK DENGAN METODE SOXHLET
Oleh
Kelompok 2
Karina Indah Pertiwi                 I14090026
Avliya Quratul Marjan             I14090039
Ali Mahdi Bukhori                    I14090041
Inti Makaryani                         I14090068
Grevi Wiziani                           I14090108

Asisten Praktikum :
Rahmi Khalida
Tommy Marcelino


Penanggung Jawab Praktikum:
Prof. Ir. Ahmad Sulaeman M.S . Ph.D












DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Menurut Lehninger (1982) lemak merupakan bagian dari lipid yang mengandung asam lemak jenuh bersifat padat. Lemak merupakan senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik nonpolar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), kloroform (CHCl3), benzena, hexana dan hidrokarbon lainnya. Lemak dapat larut dalam pelarut tersebut karena lemak  mempunyai polaritas yang sama dengan pelarut (Herlina  2002).
Dalam mengetahui kadar lemak yang terdapat di bahan pangan dapat dilakukan dengan mengekstraksi lemak. Namun mengekstrak lemak secara murni sangat sulit dilakukan, sebab pada waktu mengekstraksi lemak, akan terekstraksi pula zat-zat yang larut dalam lemak seperti sterol, phospholipid, asam lemak bebas, pigmen karotenoid, khlorofil, dan lain-lain. Pelarut yang digunakan harus bebas dari air (pelarut anhydrous) agar bahan-bahan yang larut dalam air tidak terekstrak dan terhitung sebagai lemak dan keaktivan pelarut tersebut menjadi berkurang.
            Sifat-sifat dari lemak dapat diidentifikasi dengan beberapa metode Terdapat dua metode untuk mengekstraksi lemak yaitu metode ekstraksi kering dan metode ekstraksi basah. Metode kering pada ekstraksi lemak mempunyai prinsip bahwa mengeluarkan lemak dan zat yang terlarut dalam lemak tersebut dari sampel yang telah kering benar dengan menggunakan pelarut anhydrous. Keuntungan dari dari metode kering ini, praktikum menjadi amat sederhana, bersifat universal dan mempunyai ketepatan yang baik. Kelemahannya metode ini membutuhkan waktu yang cukup lama, pelarut yang digunakan mudah terbakar dan adanya zat lain yang ikut terekstrak sebagai lemak. Pada praktikum penetapan kadar lemak ini digunakan metode ekstraksi kering yaitu metode Soxhlet.
Tujuan
            Praktikum penetapan lemak kasar dan komponen lipid dilakukan dengan tujuan agar praktikan dapat mengetahui kadar lemak yang terkandung dalam suatu bahan pangan. Metode yang digunakan tergolong dalam metode ekstraksi kering yaitu metode Soxhlet


TINJAUAN PUSTAKA
Metode Soxhlet
Metode Soxhlet termasuk jenis ekstraksi menggunakan pelarut semikontinu. Ekstraksi dengan pelarut semikontinu memenuhi ruang ekstraksi selama 5 sampai dengan 10 menit dan secara menyeluruh memenuhi sampel kemudian kembali ke tabung pendidihan. Kandungan lemak diukur melalui berat yang hilang dari contoh atau berat lemak yang dipindahkan. Metode ini menggunakan efek perendaman contoh dan tidak menyebabkan penyaluran. Walaupun begiru, metode ini memerlukan waktu yang lebih lama daripada metode kontinu (Nielsen 1998).
Prinsip Soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik. Soxhlet terdiri dari pengaduk atau granul anti-bumping, still pot (wadah penyuling, bypass sidearm, thimble selulosa, extraction liquid, syphon arm inlet, syphon arm outlet, expansion adapter, condenser (pendingin), cooling water in, dan cooling water out (Darmasih 1997).
Langkah-langkah dalam metode Soxhlet adalah : menimbang tabung pendidihan ; menuangkan eter anhydrous dalam tabung pendidihan, susun tabung pendidihan, tabung Soxhlet, dan kondensator ; ekstraksi dalam Soxhlet ; mengeringkan tabung pendidihan yang berisi lemak yang terekstraksi pada oven 1000C selama 30 menit ; didinginkan dalam desikator lalu ditimbang (Nielsen 1998).
Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang 5 sampai dengan 10 gram dan kemudian dibungkus atau ditempatkan dalam “Thimble” (selongsong tempat sampel) , di atas sampel ditutup dengan kapas. Pelarut yang digunakan adalah petroleum spiritus dengan titik didih 60 sampai dengan 80°C. Selanjutnya, labu kosong diisi butir batu didih. Fungsi batu didih ialah untuk meratakan panas. Setelah dikeringkan dan didinginkan, labu diisi dengan petroleum spiritus 60 – 80°C sebanyak 175 ml. Digunakan petroleum spiritus karena kelarutan lemak pada pelarut organik. Thimble yang sudah terisi sampel dimasukan ke dalam Soxhlet. Soxhlet disambungkan dengan labu dan ditempatkan pada alat pemanas listrik serta kondensor . Alat pendingin disambungkan dengan Soxhlet. Air untuk pendingin dijalankan dan alat ekstraksi lemak kemudian mulai dipanaskan (Darmasih 1997).
Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati Soxhlet menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar kondensor mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian menetes ke thimble. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari ini terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan dialirkan lewat sifon menuju  labu. Proses dari pengembunan hingga pengaliran disebut sebagai refluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan selama 6 jam. Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan (Darmasih 1997).
Faktor yang Memengaruhi Kadar Lemak
Faktor-faktor yang memengaruhi laju ekstraksi adalah tipe persiapan sampel, waktu ekstraksi, kuantitas pelarut, suhu pelarut, dan tipe pelarut. Dibandingkan dengan cara maserasi, ekstraksi dengan Soxhlet memberikan hasil ekstrak yang lebih tinggi karena pada cara ini digunakan pemanasan yang diduga memperbaiki kelarutan ekstrak. Makin polar pelarut, bahan terekstrak yang dihasilkan tidak berbeda untuk kedua macam cara ekstraksi. Fenolat total yang tertinggi didapatkan pada proses ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat. Sifat antibakteri tertinggi terjadi pada ekstrak yang diperoleh dari ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat untuk ketiga macam bakteri uji Gram-positif. Semua ekstrak tidak menunjukkan daya hambat yang berarti pada semua bakteri uji Gram-negatif (Lucas dan David 1949).
Crackers
            Crackers adalah jenis biskuit yang terbuat dari adonan keras melalui proses fermentasi atau pemeraman, berbentuk pipih yang mengarah kepada rasa asin dan renyah, serta bila dipatahkan penampang potongannya berlapis-lapis. Crackers tanpa pemanis merupakan tipe yang paling populer yang dapat dikonsumsi sebagai pengganti roti dan penggunaanya lebih luas sebagai makanan diet. Ciri-ciri crackers yang baik adalah tekstur yang renyah, tidak keras apabila digigit, tidak hancur, dan mudah mencair apabila dikunyah. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan crackers dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu bahan-bahan yang berfungsi sebagai pengikat dan bahan pelembut tekstur.  Bahan pengikat atau pembentuk adonan yang kuat adalah tepung terigu, air, dan garam, sedangkan bahan-bahan yang berfungsi sebagai pelembut tekstur adalah gula, mentega, dan leavening agent (baking powder) sebagai bahan pengembang (Manley 2000).
Tabel 1 Syarat mutu biskuit (SNI 01-2973-1992)
Komponen
Syarat Mutu
Air
Maks 5%
Protein
Min 9%
Lemak
Min 9.5%
Karbohidrat
Min 70%
Abu
Maks 1.5%
Logam berbahaya
Negatif
Serat kasar
Maks 0.5%
Kalori (per 100 gr)
Min 400
Jenis tepung
Terigu
Bau dan Rasa
Normal,tidak tengik
Warna
Normal
                            Sumber: Badan Standarisasi Nasional (1992)
Pelarut Heksana
n-Heksana adalah bahan kimia yang terbuat dari minyak mentah. Normal heksana tidak berwarna dan memiliki bau yang tajam. Bahan ini mudah terbakar dan uapnya bersifat eksplosif. Kebanyakan heksana digunakan pada industri sebagai pelarut. Pelarut yang menggunakan n-heksana bisanya digunakan untuk mengestrak minyak sayuran dari hasil pertanian, seperti kedelai. Pelarut ini juga digunakan sebagai agen pembersih pada percetakan, tekstil, furniture, dan industri pembuatan sepatu. Heksana larut hanya pada air. Kebanyakan  n-heksana yang tumpah di air akan mengapung ke permukaan dimana heksana akan menguap ke udara (U.S. Department of Health and Human Services 1999).

METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum Analisis Zat Gizi Makro dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 25 Maret 2011 pukul 09.00-12.00 WIB di Laboratorium Kimia dan Analisis Makanan I, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Alat dan Bahan
            Alat-alat yang digunakan dalam praktikum penetapan lemak dengan metode Soxhlet adalah kertas saring, kaca arloji, eksikator, kondensor, labu lemak, gelas ukur, Soxhlet, oven, timbangan analitik, desikator. Selanjutnya, bahan-bahan yang digunakan adalah pelarut lemak (hexana), biskuit.

Prosedur Percobaan
Labu lemak disiapkan dan ditimbang terlebih dahulu sebelum digunakan.

                       
Labu lemak kemudian dikeringkan dalam oven selama 30 menit
dalam suhu 1050 C
.

Sampel ditimbang tepat 3 gram di dalam kertas saring yang sesuai ukurannya.
didinginkan dalam desikator selama 20 menit setelah itu ditimbang.

 







Pelarut lemak dimasukkan kedalam labu lemak secukupnya.

            
 
x
Kertas saring diikat kemudian dimasukkan kedalam alat ekstraksi Soxhlet.
Dituang pelarut (hexana) secukupnya ke dalam alat ekstraksi Soxhlet
 




x
Kemudian didinginkan di dalam desikator selama 20 menit dan ditimbang

Setelah selesai diekstraksi maka dikeluarkan contoh dan pelarutnya
Dihidupkan air pendingin dan pemanas kemudian dilakukan ekstraksi hingga semua lemak terpisah
Labu lemak dikeringkan sekitar 60 menit di dalam oven

Setelah selesai, pelarut kemudian disuling kembali dan labu lemak diangkat dan dikeringkan dalam oven pada suhu 1050 C

 









Gambar 1 Prosedur penetapan kadar lemak metode Soxhlet

 



HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktikum kali ini menggunakan metode Soxhlet untuk mengukur kadar lemak yang ada pada crackers. Crackers yang digunakan adalah crackers merk Ritz. Untuk langkah awal sebelum pengukuran, crackers harus dihaluskan terlebih dahulu menggunakan mortar dan pastel. Penghalusan dilakukan agar cracker dapat dimasukkan ke dalam alat dan juga dapat diekstraksi dengan lebih mudah. Crackers yang telah halus selanjutnya akan ditimbang pada timbangan analitik sebanyak kurang lebih 5 gram lalu dibungkus dengan kertas saring dan diikat untuk kemudian dimasukkan ke dalam thimble. Thimble adalah selongsong tempat sampel yang ada pada perangkat Soxhlet. Thimble yang sudah terisi sampel dimasukan ke dalam Soxhlet. Soxhlet disambungkan dengan labu dan ditempatkan pada alat pemanas listrik serta kondensor. Alat pendingin disambungkan dengan Soxhlet. Air untuk pendingin dijalankan dan alat ekstraksi lemak mulai dipanaskan .
Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati Soxhlet menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar kondensor mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian menetes ke thimble. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari ini terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan dialirkan lewat sifon menuju labu. Proses dari pengembunan hingga pengaliran disebut sebagai refluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan selama 6 jam. Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan (Darmasih 1997).
Ekstraksi lemak dari dalam dalam crackers dibantu oleh pelarut anhydrous. Pelarut anhydrous merupakan pelarut yang benar-benar bebas air. Hal tersebut bertujuan supaya bahan-bahan yang larut air tidak terekstrak dan terhitung sebagai lemak serta keaktifan pelarut tersebut tidak berkurang. Proses yang terjadi pada Soxhlet berlangsung selama kurang lebih 3 sampai dengan 4 jam. Lemak yang telah diekstraksi akan tertampung di labu lemak. Dari dalam labu lemak ini selanjutnya akan dihitung dengan rumus kadar lemak, yaitu :
% lemak =  x 100
Keterangan :   B = berat labu lemak akhir
A = berat labu lemak awal
S = berat sampel
Berdasarkan hasil praktikum penetapan kadar lemak metode Soxhlet ini didapatkan data sebagai berikut.
Tabel 1 Data kadar lemak sampel cracker dengan metode Soxhlet
Nama Sampel
Kadar Lemak (%)
Go potato
47,08
Ritz
21,76
Roma
16,33
Arrow Brand
16,41
Khong Guan
13,97
Oops Butter Cracker
15,89
           
Setelah perhitungan berdasarkan berat sampel, berat labu lemak awal, dan labu lemak akhir menggunakan rumus yang ditentukan, didapatkan kadar lemak yang berbeda-beda dari keenam sampel. Crackers Go potato mengandung kadar lemak sebesar 47,08%, crackers Ritz mengandung kadar lemak sebesar 21,76%, crackers roma mengandung kadar lemak sebesar 16,33%, crackers arrow brand mengandung kadar lemak sebesar 16,41%, crackers khong guan mengandung kadar lemak sebesar 13,97%, dan oops butter crackers mengandung kadar lemak sebesar 15,89%. Kadar lemak menurut syarat mutu biskuit (SNI 01-2973-1992) yaitu minimal 9.5%. Keenam sampel tersebut mengandung kadar lemak di atas 9.5% sehingga dapat dikatakan sesuai dengan syarat mutu biskuit (SNI 01-2973-1992).

6 komentar:

  1. terimah kasih,,,,
    blog ini sangat membantu saya,,,,,

    BalasHapus
  2. kak.. mau tanya.. kenapa waktu yang digunakan untuk ekstraksi lemak menggunakan waktu selama 6 jam..

    trima kasih sebelumnya

    BalasHapus
  3. kak.. mau tanya.. kenapa waktu yang digunakan untuk ekstraksi lemak menggunakan waktu selama 6 jam..

    trima kasih sebelumnya

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Kenapa berat akhirnya gak bisa stabil ya selalu turun bahakan sampai hasilnya bisa 0, ..... % ?

    BalasHapus
  6. Kenapa berat akhirnya gak bisa stabil ya selalu turun bahakan sampai hasilnya bisa 0, ..... % ?

    BalasHapus